Tampilkan postingan dengan label Wisata Minat Khusus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Minat Khusus. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Maret 2012

Pusat Kerajinan Perahu Pinisi



Pusat Kerajinan Perahu Pinisi terletak di Kelurahan Tana Beru, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan. wisatawan bisa menyaksikan cara pengrajin membuat perahu berbagai ukuran, ukuran sedang 10 ton hingga yang berbobot besar, termasuk belasan perahu pesanan dari luar negeri


Ketika berada di Pusat Kerajinan Perahu Pinisi di Tana Beru, para pengunjung akan berdecak kagum melihat kepiawaian para pengrajinnya membuat Perahu Pinisi. Mereka mampu membuat perahu yang sangat kokoh dan megah hanya berdasarkan pada pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh dari nenek moyang mereka, tanpa menggunakan gambar atau kepustakaan tertulis. Sejarah membuktikan bahwa Perahu Pinisi Nusantara telah berhasil berlayar ke Vancouver Kanada, Amerika Serikat, pada tahun 1986. Oleh karena kepiawaian para pengrajin tersebut, Kabupaten Bulukumba dijuluki sebagai Butta Panrita Lopi, yaitu bumi atau tanah para ahli pembuat Perahu Pinisi.

Pembuatan Perahu Pinisi cukup unik, karena proses pembuatannya memadukan keterampilan  teknis dengan kekuatan magis. Tahap pertama dimulai dengan penentuan hari baik  untuk mencari kayu (bahan baku).  Hari baik untuk mencari kayu biasanya jatuh pada hari ke-5 dan ke-7 pada bulan  yang sedang berjalan. Angka 5 menyimbolkan naparilimai dalle‘na, yang berarti rezeki sudah di tangan, sedangkan angka 7 menyimbolkan natujuangngi dalle‘na, yang berarti selalu mendapat rezeki. Tahap selanjutnya adalah menebang, mengeringkan dan memotong kayu. Kemudian kayu atau bahan baku tersebut dirakit menjadi sebuah perahu dengan  memasang lunas, papan, mendempulnya, dan memasang tiang layar. Tahap terakhir  adalah peluncuran perahu ke laut.


Tiap-tiap  tahap tersebut selalu diadakan upacara-upacara adat tertentu. Sebelum perahu  Pinisi diluncurkan ke laut, terlebih dahulu dilaksanakan upacara maccera lopi (mensucikan perahu) yang ditandai dengan pemyembelihan binatang. Jika Perahu Pinisi itu  berbobot kurang dari 100 ton, maka binatang yang disembelih adalah seekor kambing, dan jika bobotnya lebih dari 100 ton, maka binatang yang disembelih adalah  seekor sapi.


Pada saat peletakan lunas, juga harus disertai prosesi khusus. Saat dilakukan pemotongan, lunas diletakkan menghadap Timur Laut. Balok lunas bagian depan merupakan simbol lelaki. Sedang balok lunas bagian belakang diartikan sebagai simbol wanita. Usai dimantrai, bagian yang akan dipotong ditandai dengan pahat. Pemotongan yang dilakukan dengan gergaji harus dilakukan sekaligus tanpa boleh berhenti. Itu sebabnya untuk melakukan pemotongan harus dikerjakan oleh orang yang bertenaga kuat. Demikian selanjutnya setiap tahapan selalu melalui ritual tertentu.

Kota Kalong di WatanSoppeng


Kota Watan Soppeng merupakan ibu kota Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia.Kota Watan Soppeng memiliki keunikan yang sangat mengagumkan, sehingga ia dijuluki sebagai “Kota Kalong” atau “Kota  Pekalongan” (bukan nama kota  yang ada di Pulau Jawa). Pengunjung jangan terkejut ketika memasuki jantung Kota Watan Soppeng, karena akan mencium bau khas yang sangat menyengat hidung. Bau  khas itu tidak lain adalah bau kalong atau kelelawar. Bau kalong tersebut akan semakin menyengat jika pengunjung berada tepat di bawah pohon tempat para kalong  tersebut bergelantungan.


Menjelang malam, kalong-kalong  tersebut terbang meninggalkan pepohonan untuk mencari makan. Saat kalong-kalong  yang jumlahnya ribuan tersebut terbang, langit seakan tertutup oleh bayangan  hitam. Kawanan kalong tersebut akan kembali ke pepohonan pada subuh hari dengan suara gemuruh seakan membangunkan warga Kota Soppeng untuk segera melaksanakan  shalat subuh dan melakukan aktivitas sehari-hari


Tidak seorang pun penduduk yang tahu  persis kapan tepatnya kalong-kalong tersebut mulai bersarang di atas pepohonan yang  berjejer di ruas-ruas jalan Kota Watan Soppeng. Masyarakat hanya meyakini bahwa  keberadaan kalong yang mirip tikus tersebut sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu.  Lebih dari itu, mereka juga meyakini bahwa kalong-kalong tersebut merupakan  “penjaga” kota Watan  Soppeng. Bahkan, mereka sangat percaya bahwa kalong-kalong tersebut menjadi  pertanda dan pemberi informasi tentang sesuatu yang baik dan buruk yang akan  terjadi di kota  ini. Jika kalong-kalong tersebut pergi meninggalkan Kota Watan Soppeng dalam  waktu yang lama, maka itu sebagai pertanda bahwa akan terjadi bencana yang  menimpa masyarakat dan kota  tersebut.